Aksi 4/11 Membuktikan Kebenaran Alquran

0
Ribuan Massa Akan kawal Sidang Perdana Ahok Terkait Penistaan Agama. (Foto: Dok/Net)

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi auliya bagimu; sebahagian mereka adalah auliya bagi sebahagian yang lain. Barang siapa di antara kamu mengambil mereka menjadi auliya, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka.  Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang lalim. Maka kamu akan melihat orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya (orang-orang munafik) bersegera mendekati mereka (Yahudi dan Nasrani), seraya berkata: “Kami takut akan mendapat bencana”. Mudah-mudahan Allah akan mendatangkan kemenangan (kepada Rasul-Nya), atau sesuatu keputusan dari sisi-Nya. Maka karena itu, mereka menjadi menyesal terhadap apa yang mereka rahasiakan dalam diri mereka. Dan orang-orang yang beriman akan mengatakan: “Inikah orang-orang yang bersumpah sungguh-sungguh dengan nama Allah, bahwasanya mereka benar-benar beserta kamu?” Rusak binasalah segala amal mereka, lalu mereka menjadi orang-orang yang merugi.”(QS. Al-Maidah: 51-53)

Kita ketahui, bahwa menafsirkan Al Quran tidak lah sembarangan. Seseorang yang hendak menafsirkan Alquran memerlukan kekhususan tersendiri yang harus dimiliki baru bisa disebut Mufassir. Hal ini karena Alquran merupakan objek vital yang dapat mempengaruhi jutaan umat Islam bahkan tingkah laku manusia yang ada dipenjuru dunia ini.

Namun belakangan ini, dengan adanya persoalan seseorang yang menistakan Alquran surat Al-Maidah ayat 51, banyak masyarakat yang mencoba ikut menafsirkan, sehingga berkembanglah argumen-argumen yang secara otomatis masuk sebagai konsumsi otak, dan tidak sedikit bahkan menjadikannnya sebagai kebenaran mutlak. Namun masyarakat perlu menggaris bawahi, bahwa para ulama mufassir berkaliber dunia ratusan tahun silam telah bersepakat bahwa ayat ini merupakan Ayat Muhkamat. Artinya ayat yang maksudnya dapat diketahui secara nyata dan tidak dapat ditafsirkan lagi. Di Indonesia, organisasi perkumpulan ulama se-Indoneisa yang sering kita kenal Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah mengeluarkan fatwa bahwa apa yang dikatakan oleh Gubernur DKI Jakarta nonaktif, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) di Kepulauan Seribu pada September lalu, telah menistakan ayat tersebut.

Dalam pengkajiannya MUI menyatakan, (1) Al-Quran surah al-Maidah ayat 51 secara eksplisit berisi larangan menjadikan Yahudi dan Nasrani sebagai pemimpin. Ayat ini menjadi salah satu dalil larangan menjadikan non Muslim sebagai pemimpin. (2) Ulama wajib menyampaikan isi surah al-Maidah ayat 51 kepada umat Islam bahwa memilih pemimpin muslim adalah wajib. (3) Setiap orang Islam wajib meyakini kebenaran isi surah al-Maidah ayat 51 sebagai panduan dalam memilih pemimpin. (4) Menyatakan bahwa kandungan surah al-Maidah ayat 51 yang berisi larangan menjadikan Yahudi dan Nasrani sebagai pemimpin adalah sebuah kebohongan, hukumnya haram dan termasuk penodaan terhadap Al-Quran. (5) Menyatakan bohong terhadap ulama yang menyampaikan dalil surah al-Maidah ayat 51 tentang larangan menjadikan nonmuslim sebagai pemimpin adalah penghinaan terhadap ulama dan umat Islam.

Dua hal yang menggaris bawahi tadi menurut saya sudah cukup untuk dijadikan sebagai landasan masyarakat untuk berfikir, sehingga masyarakat tidak terjebak pada hal-hal lain diluar itu.

Ayat Inipun Seketika Menjadi Sangat Tenar.

Adanya polemik kasus dugaan pehinaan Al Quran oleh Ahok, menjadikan surat Al-Maidah ayat 51 sangat tenar belakangan ini. Hal ini mengingatkan kita pada peristiwa Rasulullah SAW wafat. Ketika itu, sebelum kedatangan Abu Bakr As Shidiq, ‘Umar Bin Khattab berkhutbah dengan lantangnya, yang menegaskan bahwa  Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mati, melainkan Nabi hanya mendatangi panggilan Rab-Nya seperti yang terjadi pada Musa ‘alaihis salam.

Ketika Abu Bakr datang, beliau langsung mendatangi jenazah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk memastikan kondisinya. Setelah beliau melihat dengan mata kepala sendiri bahwa Muhammad telah meninggal, beliau langsung keluar rumah duka menuju  masjid. ‘Umar pun disuruh duduk dan tenang. Abu Bakr kemudian mengatakan,

Amma ba’du, siapa yang menyembah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, ketahuilah bahwa Muhammad telah meninggal. Dan siapa yang menyembah Allah, sesungguhnya Allah Maha Hidup, dan tidak mati.

Kemudian Abu Bakr mengutip firman Allah,

“Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah ada sebelumnya beberapa rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh, kamu akan murtad? Barangsiapa yang murtad, ia tidak dapat merugikan Allah sedikitpun, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur”. (QS. Ali Imran: 144)

Ibnu Abbas mengomentari pernyataan di atas,

Demi Allah, seolah-olah masyarakat belum pernah tahu bahwa Allah telah menurunkan ayat ini, sampai dibaca oleh Abu Bakr. Lalu disebut-sebut semua orang. Setiap saya bertemu orang, pasti dia membaca ayat ini. (ar-Rahiq al-Makhtum, hlm. 432).

Sebelum Ahok itu menyebutnya, masyarakat tidak pernah sadar dan sudah jauh perhatiannya tentang ayat ini. Banyak masyarakat sudah tidak lagi memperhatikan bahwa ayat ini sudah lama dijadikan dalil larangan memilih pemimpin dari yahudi dan nasrani. Hal ini karena masyarakat tengah asiknya memainkan peran politik dengan landasan yang keliru. Sebagian lain menganggap ini merupakan efek samping dari konspirasi yang sedang digencarkan para elit politik dengan idiologi tertentu di negeri ini, namun Allah Maha Berkehendak. Ribuan tahun silam Allah telah berjanji bahwa konspirasi akan dibalas konspirasi,

“Mereka melakukan konspirasi, dan Allah juga membalas konspirasi mereka. Dan Allah sebaik-baik dalam membalas konspirasi.” (QS. Ali Imran: 54)

Aksi 4/11 kemarin merupakan reaksional umat Islam yang digerakan oleh kekuatan Yang Maha Dashyat, yang Maha Menggenggam Jiwa manusia, terlepas mereka semua yang hadir mempunyai kepentingan apapun dan dari kepentingan manapun. Aksi 4/11 telah menyadarkan jutaan umat Islam tentang apa yang selama ini mereka jadikan pedoman. Tanpa disadari pula, aksi 4/11 kemarin telah membuka serta membuktikan surat Al-Maidah ayat 52-53.

Ketika Minoritas Islam Dipimpin Yang Bukan Muslim

Dengan adanya aksi 4/11 menjadi pembuktian kebenaran apa yang dikatakan Allah SWT lewat firman-Nya. Al Maidah ayat 51 telah menjadi pembuka bukti lain tentang pola dan sikap negara-negara non muslim terhadap warga Islam minoritas. Aksi 4/11 telah mengingatkan kita terhadap perlakuan yang dipertontonkan oleh seorang pemimpin-pemimpin non muslim terhadap penduduk Islam minoritas. Semboyan “melindungi kelompok minoritas” yang disuarakan oleh negara-negara non-muslim guna melindungi warganya menjadi ‘mandul’ ketika minoritas muslim tinggal di negerinya. Potret itu terlihat dibeberapa negara;

  • Myanmar

Di Negara ini, ribuan warga Muslim Etnik Rohingya terpaksa lari dari tempat tinggal mereka karena penindasan dengan kekerasan. Tak hanya itu, mereka juga mengalami proses pembersihan kultur Islam. Proses penindasan terlihat dari adanya aksi kekerasan yang dilakukan rezim Myanmar terhadap muslim Rohingnya. Pada awal tahun 2014, negara-negara Islam yang tergabung dalam OKI, juga sempat menemukan adanya indikasi 1000 pengungsi warga Rohingnya menjadi korban perdagangan manusia. (Admin, www.fokusislam.com, “Penindasan Penguasa Non-Muslim Terhadap Warga Muslim”, terbit 7 November 2016).

  • Thailand

Di Thailand, aksi kekerasan juga dilakukan oleh ekstrimis Budha terhadap muslim Patani. Jika Palestina dijajah oleh Israel, maka Muslim Pattani ditindas oleh Thailand. Padahal, dahulunya Muslim Pattani adalah sebuah kerajaan Islam yang berdiri sejak tahun 1457 dengan penduduk mayoritas Melayu Muslim (Baca: Sejarah Muslim Patani). Pemerintah Thailand membatasi aktivitas muslim Patani dalam mengekspresikan agamanya. Bukan hanya itu, pemerintah bahkan menekan mereka hingga memurtadkan dari agamanya.

  • China

Apa yang dialami muslim Rohingnya Myanmar dan Patani Thailand, dialami juga oleh muslim Uighur di China. Muslim yang tingal di wilayah Xinjiang dilarang menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan. Nasib muslim Uighur yang demikian tertekan ini pernah dikutuk oleh Turki. Turki mengutuk Thailand karena mendeportasi 100 muslim Uighur Turki dari perumahan di pusat penahanan ke China.

Pihak Turki merasa sedih dengan adanya penahanan warga Uighur Turki di Thailand, yang kemudian dikirim ke negara lain tanpa kehendak dan persetujuan para pengungsi. Kementerian Luar Negeri di Turki dalam sebuah kesempatan menyatakan bahwa Thailand telah melanggar prinsip-prinsip Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB). Salah satu di antara prinsip yang dilanggar oleh Thailand adalah prinsip refoulement. Menurut prinsip ini, suatu negara dilarang melakukan pengusiran terhadap pengungsi ke negara yang berpotensi membuat pengungsi menghadapi ancaman  kekerasan atau hukuman penjara. (Kiblat.Net. 10/7/2015). Namun parahnya, Pemerintah China memuji keputusan Thailand memulangkan imigran Uighur tersebut. Negeri Tirai Bambu itu mengabaikan tekanan internasional yang menuntut etnis Uighur mendapat perlakuan yang lebih laik. Bahkan, Beijing membuat tudingan yang menyatakan 100 imigran itu sejak awal ingin bergabung dengan ISIS. (Ardyan Mohamad. “Ini alasan pemerintah China membenci muslim Uighur”. Merdeka.Com. 14 Juli 2015)

Di sejumlah negara lain, masih banyak umat Islam yang mendapatkan perlakuan tidak adil, mengambil hak-haknya sebagai manusia hanya dia sebagai seorang muslim. Di Prancis (2002), Jerman (2003), Belanda (2007), Barcelona (2010), Belgia (2011), Rusia (2013), Australia (2014), merupakan sebagian negara atau pemerintahan yang membatasi hak muslimah untuk mengenakan pakaian muslimnya, bahkan media liputan6.com pernah merilis 11 Negara yang Melarang Penggunaan Hijab (13 Januari 2015). Tak hanya itu, akhir-akhir ini Prancis mengeluarkan peraturan terbaru tentang pelarangan menggunakan Burkini (jenis pakaian renang muslimah), dengan alasan yang tidak logis.

Masih banyak lagi penderitaan yang dialami minoritas muslim di penjuru dunia, namun mata dunia mendadak menjadi buta. Kepekaan telinga dan hati untuk berempati terhadap penderitaan yang dialami moniritas muslim seketika hilang begitu saja. Bahkan, media massa yang sangat kritis pun kehilangan taringnya untuk mengungkap tragedi kemanusiaan dan keagamaan itu. PBB yang menjadi polisi dunia, seakan-akan tidak memiliki ‘pistol’ untuk melakukan langkah-langkah pencegahan terhadap diktator mayoritas yang menindas minoritas muslim.

Hilangnya daya kritis media massa dan mandulnya PBB bukan tanpa sebab. Bukan menjadi rahasia umum dunia jika dua institusi itu akan kritis dan tanggap serta bergerak cepat apabila yang mengalami penindasan adalah non-muslim. Apabila kelompok non-muslim mengalami perlakuan yang dianggap kurang adil, maka mereka bersatu dan membuat langkah untuk mengadakan perlawanan, dan bahkan berujung melakukan politik penghancuran terhadap umat Islam. Inilah salah satu deskripsi Allah SWT untuk menggambarkan gerakan bersama dari mereka itu yang bersatu padu dalam mengumpulkan segala daya, upaya dan dana untuk menghancurkan Islam:

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir menafkahkan harta mereka untuk menghalangi (orang) dari jalan Allah. Mereka akan menafkahkan harta itu, kemudian menjadi sesalan bagi mereka, dan mereka akan dikalahkan. dan ke dalam Jahannamlah orang-orang yang kafir itu dikumpulkan,” (QS. Al-Anfal : 36)           

Bagaimana Mayoritas Muslim Jika Memimpin Minoritasnya.

Tentu alangkah adilnya jika kita melihat dari sisi lain bagimana ketika muslim yang menjadi mayoritas, memimpin dan memperlakukan kaum minoritas di negaranya. Banyak yang beranggapan dan menjadi ketakutan dikalangan non-muslim bahwa jika mereka (muslim) menguasai suatu negara tertentu akan menjadi awal kehancuran kehidupan mereka yang ada didalamnya. Seolah-olah, Islam dengan hukum-hukumnya akan membuat penderitaan bagi mereka semuanya. Padahal, sejarah telah membuktikan hingga saat ini seorang muslim memimpin mereka (non-muslim) dengan rasa yang santun, toleran, dan penuh kedamaian.

  • Pada Masa Rasulullah SAW dan Para Sahabat

Rasulullah Muhammad SAW merupakan pemimpin terbaik di dunia, hal ini tidak hanya menjadi klaim umat muslim namun juga diakui oleh orang-orang non-muslim. Sejarah mencatat, pada massa kehidupannya, kafir Quraisy yang senantiasa memusuhi beliau mengakui akan kepemimpinannya. Sikap adil yang beliau punya, serta sikap-sikap sempurna lainnya yang membuat kagum siapapun yang ada di muka bumi ini. Tak hanya itu, ketika orang-orang kafir Quraisy selalu mencaci maki dan menghina bahkan perlakuan kasar terhadap fisiknya, beliau selalu memperlakukan mereka dengan baik, dengan sabar dan tawakkal kepada Allah SWT serta mendoakan semoga mereka diberi petunjuk oleh Allah SWT.

Hal ini sesuai dengan Firman Allah SWT:

“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu Berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. karena itu ma’afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, Maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya. (QS Al-Imran: 159)

Sepertinya, perbedaan agama tidak menghalangi Rasulullah SAW untuk menghormati mereka. Menurutnya, diantara keyakinan seseorang terdapat satu persamaan, yaitu sebagai sesama ciptaan Allah SWT yang Esa.

Hal ini sesuai dengan Firman Allah SWT:

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS An-Nahl: 125)

Dalam sebuah riwayat disebutkan. Dari Ibnu Abu Laila bahwa ketika Qais bin Saad ra. dan Sahal bin Hunaif ra. sedang berada di Qadisiyah, tiba-tiba ada iringan jenazah melewati mereka, maka keduanya berdiri. Lalu dikatakan kepada keduanya: Jenazah itu adalah termasuk penduduk setempat (yakni orang kafir). Mereka berdua berkata: Sesungguhnya Rasulullah saw. pernah dilewati iringan jenazah, lalu beliau berdiri. Ketika dikatakan: Jenazah itu Yahudi, Rasulullah saw. bersabda: Bukankah ia juga manusia?. (Shahih Muslim No.1596)

Sejarah lainnya mencatat, Fathu Mekkah merupakan bukti kepemimpinan Rasulullah SAW dalam menghormati non-muslim. Pada waktu itu, Islam mendapatkan kemenangan besar dari Allah SWT tanpa pertumpahan darah terhadap orang kafir Quraisy. Saat itu, beliau senantiasa menanamkan kepada kaum muslimin untuk tetap menghormati orang-orang kafir Quraisy dan tidak mengganggu harta mereka, serta tidak berlaku sewenang-wenang atas mereka. Beliau menyampaikan bahwa “janganlah kalian saling mendzhalimi, karena kedzhaliman merupakan larangan Allah SWT.”

Hal ini sesuai dengan Firman Allah SWT:

“Dan jika seorang diantara orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu, Maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar firman Allah, kemudian antarkanlah ia ketempat yang aman baginya. demikian itu disebabkan mereka kaum yang tidak mengetahui.” (QS At-Taubah 6)

Tentunya dua kejadian diatas menjadi gambaran dan teladan dari sekian banyak ilmu-ilmu dari akhlak beliau bagaimana seorang muslim memperlakukan orang-orang nonmuslim. Belum lagi bagaimana sikap toleransi beliau yang tercatat dalam Konstitusi Madinah atau Piagam Madinah.

Setelah Rasullah wafat, para sahabat beliau tentunya melanjutkan dakwah penyebaran agama Islam. Akhlak yang mereka punya tidaklah jauh dari apa yang diajarkan oleh Rasulullah SAW. Kita ketahui dalam sebuah kisah yang amat masyhur, bahwa Rasulullah semasa hidupnya paling perhatian terhadap kondisi pengemis tua buta dari bangsa Yahudi yang menetap di salah satu sudut pasar di Madinah. Setiap hari, Rasulullah datang menyuapi pengemis tersebut, karena faktor usia dan menderita kebutaan. Setiap Nabi datang menyuapi, pengemis Yahudi itu selalu menyebut-nyebut Muhammad sebagai orang yang jahat, mesti dijauhi dan sebagainya. Hingga suatu ketika, Yahudi tua itu terkejut karena tangan yang biasa menyuapinya selama ini berbeda pada waktu itu. Tangan itu ternyata adalah tangan Abu Bakar Ash-Shiddiq yang senantiasa ingin mengikuti Nabi dalam segala hal. Saat itulah, Yahudi mendapatkan berita bahwa tangan yang selama ini menyuapinya telah tiada, dan tangan itu adalah tangan Nabi Muhammad Shallallahu Alayhi Wasallam. Begitupun ‘Umar dengan sikap toleransinya terhadap warga Yahudi dan Nasrani. Juga ‘Utsman, ‘Ali, serta para khalifah-khalifah lainnya yang sudah dibuktikan dan tercatat pada riwayat-riwayat.

  • Pemimpin di Indonesia

Dalam sejarah bangsa Indonesia, Negara Kesatuan Republik Indonesia ini di tingkatan pemimpin elite negara selalu dipimpin oleh seorang muslim, mereka yakni Soekarno, Syafruddin Prawiranegara (Ketua Pemerintahan Darurat Republik Indonesia/PDRI), Assaat (pemangku sementara jabatan Presiden RI), Soeharto, Bacharuddin Jusuf Habibie, Abdurrahman Wahid, Megawati Soekarnoputri, Susilo Bambang Yudhoyono, dan presiden saat ini Joko Widodo.

Dengan jumlah penduduk 249,9 juta (2013), 300 kelompok etnik atau suku atau tepatnya 1.340 suku bangsa di Indonesia (sensus BPS tahun 2010), menjadikan Indonesia sebagai negara paling toleran dalam beragama di dunia. Hal ini berdasarkan Laporan Tahunan Kehidupan Keagamaan di Indonesia 2012 dengan beberapa indikator yakni kebijakan hari libur nasional dalam perayaan hari besar agama-agama minoritas. Misalnya, Konghucu di Indonesia yang hanya berjumlah 4-5 juta, tapi hari rayanya dijadikan libur nasional. Sementara Umat Islam di Prancis dan Jerman sekitar 10 persen, tetapi Idul Fitri dan Idul Adha tak dijadikan hari libur. Data tersebut juga menyebutkan dari 14 libur nasional, 12 adalah hari agama. Pada 2007, dari 33 gubernur di Indonesia, 10 di antaranya adalah nonmuslim. Pada 2013, dari 33 provinsi ada 8 gubernur nonmuslim. Untuk pemerintahan, pada zaman Orde Baru, hampir semua kementerian penting pernah dijabat nonmuslim. Ini merupakan sesuatu yang mungkin tak pernah terjadi di Amerika Serikat sekali pun, bahwa ada kementerian strategis dipegang oleh muslim selaku minoritas. Hal ini tentu tidak terlepas dari pengaruh dan kebijakan para pemimpin elite negara (presiden) yang semuanya seorang muslim. Misalnya Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Presiden RI ke-4, merupakan seorang Kiai atau Ulama besar yang kala itu mengeluarkan kebijakan pengakuan resmi dari negara terhadap agama Kong Hu Cu pada tahun 2000.

Secara keseluruhan, pemimpin-pemimpin negeri ini telah berhasil menjaga Bhineka Tunggal. Pemimpin-pemimpin negeri ini telah berhasil menjaga dan merawat keserasian suku, ras, dan umat beragama. Secara langsung juga Islam telah membuktikan bagaimana seorang pemimpin bersikap professional.

Perlakukan Islam terhadap umat lain tentu sudah kita ketahui bersama. Catatan sejarah membuktikan bagaiman seorang muslim bersikap sebagai pemimpin yang memperlakukan umat lain selaras sebagai manusia. Aksi 4/11 membuktikan tentang kebenaran AlQuran dengan ‘pembuka’ Surat Al-Maidah ayat 51. Allah SWT seolah-olah sedang menyampaikan bahwa AlQuran secara kasat mata merupakan benda mati, namun isi yang terkandung akan selalu menghidupi dan menjawab sampai akhir zaman. Kebenarannya merupakan kemutlakan yang tak terpungkiri. Alquran pada waktu itu telah berbicara bahwa ini yang dimaksud umat Islam layaknya seperti lebah yang sewaktu-waktu jika diganggu akan menyerang dengan dahsyat tiada ampun.

Fenomena-fenomena yang terjadi pada aksi 4/11 telah menjadi saksi mata yang kasat ini dalam melihat kebenaran mutlak yang dianggap abstrak. Aksi 4/11 merupakan awal terjalinnya persatuan umat Islam. Aksi 4/11 merupakan wadah mengumpulkan mereka pada waktu subuh. Mengajak mereka agar bersama-sama mendirikan sholat berjamaah dengan jumlah jamaah setara sholat Jum’at bahkan lebih ramai lagi. Jalanan yang biasanya macet seketika menjadi alas sujud bagi kening-kening mereka dengan suhu Iman yang tinggi.

Penulis,

Oman Fathurohman Abroh

LEAVE A REPLY