Perspektif Feminisme dan Islam Dalam Ideologi Pembebasan Perempuan

0

Oleh: Eva Nurcahyani

RILITAS.COM, Opini – Feminisme dan emansipasi perempuan memang seperti dua sisi mata uang yang tak dapat dipisahkan. Begitupun tentang pembebasan kaum perempuan yang tampaknya akan terus menghangat sejalan dengan perubahan sosiokultural yang tengah melanda hampir disemua belahan dunia, salah satunya di Indonesia itu sendiri. Modernisasi telah memungkinkan adanya transformasi tatanan sosial yang hierarkis feodalistik menuju pola sosial yang egaliter dan demokratis. Transformasi tersebut sebaiknya tidak dianggap sebagai sebuah tragedi atau suatu kejadian luar biasa melainkan harus dijadikan suatu titik awal untuk mengadakan refleksi terhadap apa yang telah dicapai di masa lalu.

Modernisasi banyak memberikan peluang bagi partisipasi perempuan di bidang- bidang yang secara pandangan tradisional hanya dianggap dapat dilakukan atau dimiliki oleh kaum laki- laki. Karena dalam era modernisasi tidak dibenarkan adanya diskriminasi dalam segala bidang baik itu ras, agama, pun jenis kelamin. Akan tetapi tawaran modernisasi tersebut bukan berarti tidak mengalami kendala dalam merealisasikannya, terutama dalam menyangkut permasalahan perempuan. Karena tata nilai budaya serta norma agama yang tidak selalu berjalan beriringan dengan rasionalisasi yang dilakukan atau dicetuskan oleh modernisasi.

Tata nilai budaya yang mengakar berabad- abad melekat telah menciptakan ‘citra baku’ atau ‘kodrat baku’ bagi beberapa manusia dalam hubungan sosialnya. Karena mengakar serta tuanya tata nilai budaya tersebut sulit untuk di ingkari bahwa kondisi ini bukanlah kondisi dari ‘kodrat kemanusiaanya’. Sebagaimana hasil dari penelitian antropologis antar masyarakat yang dilakukan oleh Tuti Heraty Noerhadi yang dibuku kan dengan judul “Bagaimana Mengatasi Kodrat Baku” ditemukan bahwa ‘citra baku’ sangat- sangat bervariasi dari satu masyarakat dengan masyarakat lainnya. Selain itu banyak kalangan feminist melakukan kajian lanjut untuk mengetahui serta mengungkap apa yang ada dibalik upaya pelabelan serta pelanggengan ‘citra baku’ atau ‘kodrat baku’ yang tidak bisa dan tidak boleh tersentuh oleh proses modernisasi. Kajian inilah yang akhirnya melahirkan ideologi pembebasan perempuan yang kemudian biasa dikenal dengan gerakan feminisme.

Sepertialiran yang lain, yang lahir di Barat. Maka secara politik feminisme seringkali dijadikan sasaran pengkambinghitaman permasalahan sosial yang terjadi dikalangan masyarakat muslim, terutama di Indonesia. Akan tetapi, semisal dikaji lebih dalam islam sesugguhnya mempunyai andil besar dalam meretas belenggu kultur Arab Jahiliyyah yang telah menjerat harkat kemanusiaan. Sebagaimana judul yang ada dalam tulisan ini, penulis bermaksud untuk mengkaji serta merangkum dari beberapa literatur secara sebandingdengan ideologi pembebasan perempuan baik dari perspektif feminisme pun islam itu sendiri.

Pandangan masyarakat awam tentang gender, justru yang menjadikan pembentukan ‘citra baku’ tersebut. Dimana gender sebenarnya merupakan identitas gramatikal yang berfungsi mengklasifikasikan suatu benda pada kelompok- kelompoknya. Identitas inilah yang seringkali dirumuskan dengan ‘feminine’ dan ‘masculine’. Secara istilah gender digunakan untuk menandai segala sesuatu yang ada didunia dalam masyarakat yang tumbuh dan berkembang dari arsitektur rakyat etnik yang dibangun berdasarkan pengalaman dengan mengunakan teknik lokal yang mengakar dan membudaya atau disebut dengan ‘vernacular’. Salah satunya yaitu bahasa, tingkah laku, pikiran, ruang, waktu, harta milik, alat-alat produksi dan tabu. Sedangkan secara konseptual, gender berguna sebagai bahan kajian terhadap pola sosial hubungan laki- laki dan perempuan dalam berbagai masyarakat yang berbeda.

Proses pembentukan citra baku sudah dimulai sejak beratus abad yang lalu disaat peradaban manusia ditegakan berdasarkan prinsip ‘the survival of the fittest’. Dimana prinsip ini lebih mempertimbangkan proses fisik sebagai prasyarat penguasaan struktural sosial, oleh itu akibatnya perempuan yang secara fisik tidak setegar laki-laki menjadi termarginalisasi dari sektor ‘persaingan budaya’. Dalam proses sosialisasi dikemudian hari, hampir seluruh aspek kehidupan sosial lebih banyak merefleksikan ‘kelaki- lakian’ (masculine) atau apa yang kemudian disebut dengan sistem patriarki. Dalam kaitannya bahwa keberadaan atau kedudukan mereka tidak lebih dari hanya pendukung eksistensi laki-laki disektor persaingan atau biasa disebut dengan sektor publik. Domestika perempuan diaggap sebagai konsekuensi logis dari peran- peran reproduksinya, dimana citra baku perempuan dibangun (feminity) dari dinding rumah. Lebih lagi, perempuan hampir tidak punya kesempatan untuk menentukan citra bakunya sendiri. Image kecantikan, kesopanan serta tingkah laku dan keberadaanya ditentukan sejauh mana perempuan tersebut dapat memenuhi struktur patriarki.

Secara sederhana ideologi gender membedakan secara tegas bahwa laki – laki dengan maskulinnya berarti; rasional, agresif, mandiri, eksploratif. Sedangkan perempuan dengan feminin nya berarti; emosional/ perasa, lemah lembut, tidak mandiri dan pasif. Dimana secara tradisional bahwa identitas diatas sangat behubungan erat dengan jenis kelamin, oleh sebab itu dianggap sebagai ‘kodrat’. Maka dari itu seringkali muncul suatu mitos bahwa perempuan merupakan aktor dibalik layar, sang permaisuri serta ibu rumah tangga yang sangat berjasa, namun tidak ada satupun anggota keluarga yang memberi dukungan yang ada hanya sanjungan- sanjungan semu. Yang pada dasarnya permaisuri yang sesungguhnya justru membuat perempuan terpuruk dalam moshisme yang laten. Seperti aspek sosial lainnya, secara ideal modernitas harus mampu mengadakan demitosisasi ideologi gender. Namun pada kenyataanya tidak demikian, temuan- temuan ilmiah modern justru menguatkan ideologi gender klasik yang didukung dengan mitos- mitos klasik. Seperti teori dasar yang melandasi pembentukan ideologi gender diantaranya teori nature/kodrat, teori nurture, teori psikoanalis serta teori fungsionalis.

Berawal dari ideologi gender yang klasik tadi, feminisme menggagas ideologi pembebasan. Feminisme mengambil ketimpangan- ketimpangan ideologi gender klasik yang menjadi titik awal perumusan masalah, dimana secara ideal seorang laki- laki disamping mempunyai kadar maskulinitas juga ia harus diberi kesempatan untuk mengembangkan identitas feminitasnya secara proposional, pun sama halnya deengan perempuan. Misalnya seorang laki- laki yang dinamis ia yang juga seorang laki- laki romantis. Seorang perempuan yang romantis ia juga harus dinamis. Feminisme tidak seperti produk modernisme lain seperti, kapitalisme, liberalisme, ataupun maxsisme. Feminisme tidak mendasar pada satu teori tunggal, tetapi lebih mendasar pada realitas kultural, tingkatan kesadaran, persepsi serta tindakan. Dengan demikian, dimungkinkan adanya keberagaman ideologi sesuai capaian dari masing- masing feminisme. Namun demikian hampir semua sepakat bahwa feminisme adalah sebuah ideologi yang berangkat dari: kesadaran akan suatu penindasan dan pemerasan terhadap perempuan dalam masyarakat, di tempat kerja dan daam masyarakat, serta tindakan sadar oeh perempuan mupun laki- laki untuk mengubah keadaan tersebut.

Secara formal feminisme sebagai sebuah ideologi muncul dari Barat pada abad ke- 18, namun bukan berarti perspektif feminisme tidak pernah muncul diberbagai belahan bumi yang lain, setidaknya ada empat aliran feminisme yang masing- masing berkiblat pada teori- teori sosial yang dipahami, diantaranya feminisme liberal, feminisme radikal, feminisme marxis, dan feminisme sosialis. Meski secara ideologi mereka tampak berbeda, namu dalam gerakan praktis keempat aliran tersebut mempunyai komitmen yang sama dimana menuntut persamaan upah dalam pekerjaan.

Disamping itu juga aliran tersebut mengkhendaki agar pekerjaan rumah tangga yang hanya dikerjakan oleh perempuan diperhitungkan secara ekonomis atau dianggap sebagai prestasi yang menjadi tanggung jawab laki- laki dan perempuan secara setara,  kemudian akses yang sama di sektor publik dan profesi dengan mekanisme yang memenuhi kriteria profesional harus ditanggung bersama sehingga mereka berdua mempunyai kesempatan yangn sama dalam aktualisasi di luar rumah, persamaan hak dimata hukum, perempuan harus diberi hak untuk mengontrol kehidupan seksualnya seperti menentukan jumlah anak serta pemakaian alat kontrasepsi, kaum feminis sangat menentang adanya penganiayaan atau kekerasan terhadap perempuan, kemudian perempuan harus diberi hak untuk merumuskan gerakannya sendiri yang diambil dari aspirasinya sendiri.

Selain feminisme yang menggagas ideologi pembebasan, islam pun sebenarnya menggagas ideologi pembebasan. Secara historis islam merupakan agama yang penuh cita- cita sosial, agama yang dihadirkanAllah ditengah manusia dalam rangka meneggakan kemaslahatan, kasih sayang, keadilan secara menyeluruh, karena islam merupakan agama  rahmatan lil alamin dinyatakan dengan jelas dalam al- quran Wamaa arsalnaaka illa rahmatan lil alamiin. Selain sebagai gerakan kultural  islam mendobrak keterbelakangan dan melepaskan belenggu yang mengikat harkat kemanusiaan sebagai mana tertera dalam QS. Al. A’raaf ayat 157. Dan secara ideologis pun islam mempunyai capaian pembebasan dengan menyatakan bahwa “di sisi Allah SWT, manusia baik laki- laki maupun perempuan mempunyai derajat yang sama, yang membedakan hanyalah ketakwaannya, yakni sebagaimana dia istiqomah mengimani dan mengamalkan ajaran- ajaran islam dalam kehidupan sehari- hari” QS. Al. Hujuurat ayat 13. Setidaknya ada tiga aspek sosial yang direntaskan belenggunya, yakni; anak yatim, budak dan perempuan.

Perbudakan secara berangsur- angsur dihapuskan melalui “kaffarah” atau pembebasan budak melalui denda atas pelanggaran norma islam. Begitupun anak yatim dilepas belenggu dengan melarang praktik perkawinan anak yang hanya ingin menguasai hartanya ataupu yang lainnya. Perempuan dibebaskan melalui pelarangan penguburan anak- anak perempuan dan diberi hak dalam mengatur pernikahannya. Al- quran menyatakan bahwa laki- laki dan perempuan diciptakan dari dzat yang sama. Dimana pernyataan ini menghapus diskriminasi yang meyatakan bahwa Hawa adalah pelengkap Adam, karena diciptakan dari tulang rusuknya. Selain itu al-quran juga menyatakan bahwa laki- laki dan perempuan berhak atas semua yang diusahakan.

Secara historis pun islam memberikan hak yang sama terhadap perempuan. Hal ini dibuktikan paa zaman nabi Muhamad SAW, tercatat ada 1.232 perempuan yang menerima periwayatan hadits. Ummul mukminin Aisyah tercatat sebagai salah satu dari tujuh bendaharawan hadits. Beliau meriwayatkan 2.210 hadits. Khadijah binti Khuwalid terkenal sebagai perempuan sukses dalam dunia bisnis. Zainab istri Ibnu Mas’ud dan Asma binti Abu Bakar keluar rumahnya mencari nafkah untuk keluarganya. Di medan laga, banyak nama sahabat perempuan yang tercatat sebagai pejuang, seperti  Nusaibah binti Ka’ab tercatat sebagai perempuan yang memanggul senjata dn melindungi Rasulullah ketika perang Uhud.

Islam pun tidak pernah melegalkan penguasaan laki- laki, baik fisik maupun psikologis terhadap perempuan dalam bentuk apapun. Apabila dikaitkan dengan ideologi pembebasan islam tentu arti terakhirlah yang paling dekat dengan cita- cita sosial islam. Dengan demikian konseptualisasi ideologi gender yang islami harus ditempatkan pada sejauh mana peran- peran sosial itu mampu mendukung risalah islam. Secara normatif, tidak ada satu ayat Al- Quran pun menyatakan bahwa tugas suci seorang perempuan sebagai makhluk domestik. Dan tidak satu hadits pun yang secara ekplisit menyatakan hal tersebut. Aturan normatif ini dapat ditemukan dalam fiqh tulisan an- Nawawi yang sangat terkenal diskriminatif terhadap perempuan. Meski demikian an- Nawawi menyatakan bahwa tugas memasak serta keperluan makanan dan menyenangkan suami adalah pekerjaan mubah bukan suatu pekerjaan yang wajib syar’i.

Untuk itu menyudutkan perempuan pada tugas utama dalam domestik atau rumah tangga tidak mendapatkan dasar yang kuat dalam islam, pun juga tugas mendidik seperti yang dicontohkan Rasulullah yang menyatakan bahwa ‘perempuan akan diminta pertanggungjawaban atas rumah suaminya’ (Bukhari dan Muslim). Bukan berarti perempuan adalah pelaksana tunggal pekerjaan rumah.Pada dasarnya saat ini, perlu diadakan kajian ulang terhadap masalah- masalah keperempuanan guna untuk mempertegas ideologi pembebasan kemanusiaan  yang tersamar oleh bias kultur abad pertengahan. Atas jaminan keimanan dan upaya untuk menjadikan islam menjadi dasar pijakan yang konseptual, maka persepketif  feminis islami menjadi suatu keharusan untuk dirumuskan. Dengan keberagaman konsep feminisme memungkinkan untuk dirumuskan feminisme yang secara ideologis harus bertumpu pada norma- norma keislaman. Sebab islam menjungjung tinggi kebahagiaan setiap umatnya. Bahkan seorang ibu tidak boleh menderita karena mengurusi anaknya, sesuai dengan apa yang tertera dalam QS. Al. Baqarah ayat 228.

Demikian titik temu feminisme dengan islam adalah bahwa dimana keduanya merupakan gerakan kultural yang mempunyai ideologi pembebasan. Dengan perbedaan bahwa feminisme lebih mengarah pada satu segmen masyarakat yang terkadang mengundang perdebatan pun perlawanan pihak laki-laki, sedang islam lebih menempatkan ideologi pembebasan perempuan dalam kerangka besar ideologi pembebasan harkat kemausiaan.

(Penulis adalah Kader HMI Komisariat Pamulang Cabang Ciputat)

LEAVE A REPLY