Teropong Pemimpin Masa Depan

0
Oleh: Sintia Aulia Rahmah, S.Th.I
RILITAS.COM – Saat ini masyarakat Indonesia dituntut untuk siap menghadapi pergeseran sosio-cultur dan kemajuan teknologi yang sangat pesat. Selanjutnya muncul pertanyaan bagaimana model kepemimpinan yang ideal di era millenial yang mampu membawa masyarakat agar mampu mengambil manfaat dan menghadapi tantangan-tantangan yang ada. Maka figur pemimpin yang sesuai dengan kondisi saat ini adalah pemimpin yang memiliki visi misi profetik.
Pembahasan soal kepemimpinan profetik telah disinggung pertama kali oleh Kuntowijoyo sejak tahun 1991 yang fokusnya pada tiga konsep yakni humanity, liberty dan theology. Diambil juga dari beberapa sumber mencatatkan bahwa ketiga konsep tersebut merupakan hasil turunan dari Surat Ali Imran : 110
كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِٱلْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ ٱلْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِٱللَّهِ
….
 Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah….. (Ali Imran: 110)
Bagi saya ketiga konsep tersebut sangat tepat untuk diterapkan di Indonesia. Selain itu kepemimpinan model ini mensyaratkan empat hal seperti Tingkat kecerdasan seorang pemimpin (Intelligence Quotient /IQ), indikator kadar emosi (Emotional Quotient /EQ), Kecerdasan sosial (Socio Quotient /SQ) dan takaran pemahaman tentang keagamaan (Religious Quotient /RQ).
Nilai-nilai tersebut telah jelas dipaparkan oleh Caknur dalam pola kaderisasi di HMI. Kami mengenalnya sebagai nilai-nilai dasar perjuangan (NDP) yang merupakan landasan utama bagi kader HMI dalam pengejewantahan nilai-nilai keislaman dan keindonesiaan. Maka kader HMI adalah representasi dari sosok kepemimpinan profetik dan sangat mungkin untuk mengisi posisi orang nomor 1 di Indonesia.
Di sisi lain tantangan baru bagi kader HMI adalah perkembangan teknologi yang sangat cepat, maka untuk menjadi pemimpin profetik di era millenial kader HMI dituntut untuk melakukan terobosan-terobosan baru dengan memanfaatkan digital yang berkembang. Tentu tidak sulit bagi kader HMI melakukan pembaharuan dalam pemenuhan kapasitas di bidang teknologi dengan memanfaatkan jaringan (network) yang ada tanpa batas. Hal itu akan mendorong tercapainya tujuan dari implementasi nilai-nilai organisasi.
Penulis Kader Himpunan Mahasiswa Islam (Wasekbid HAL HMI Badko Jebodetabeka Banten)

LEAVE A REPLY