TBM Ratu Cerdas: Mengenal Sejarah pada Museum Multatuli Lebak

0
RILITAS.COM, Lebak – Dalam rangka memeriahkan pembukaan Museum Multatuli di Alun-alun Rangkasbitung Kabupaten Lebak Provinsi Banten, Minggu (11/2/2018), para pegiat literasi se-Provinsi Banten mengadakan aksi gelar buku bersama, musikalisasi puisi, dan mendongeng sekaligus diskusi literasi bersama kang Maman Suherman guna mempererat tali silaturahim.
Menurut Supardi Panjul salah satu relawan Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Ratu Cerdas, yang ikut serta dalam memeriahkan pembukaan Museum Multatuli mengatakan, “Keberadaan Museum Multatuli sangat memengaruhi kami untuk mengenang sejarah, mengenalkan kita semua kepada para pejuang gerakan antikolonialisme wilayah Lebak-Banten, mengukir dan menghubungkan sejarah Nusantara hingga dunia,” tuturnya.
Menurutnya, memahami sejarah dalam beberapa soal memang rumit, serumit seluk-beluk lakon manusia dalam kisah sejarah itu sendiri. “Bagaimana seorang Belanda bisa membela pribumi yang seharusnya dinistakan? Atau bagaimana bisa seorang kulit putih macam Eduard Douwes Dekker yang Protestan terenyuh atas penderitaan warga pribumi Banten yang gemar berontak di bawah panji sabilillah? Dalam posisi ini, Dekker seorang pengecualian.”
Dirinya menceritakan, Multatuli, nama pena Eduard Douwes Dekker, jengah menyaksikan pemerasan dan penganiayaan terhadap rakyat bumiputra oleh penguasa lokal. Sebagai orang Belanda, ia juga tak setuju dengan sikap pemerintah kolonial Belanda yang mendiamkan kezaliman itu.
Saat menjalani jabatan sebagai asisten Wedana Lebak, pria kelahiran Amsterdam, 2 Maret 1820 ini menyaksikan praktik pemerasan oleh bupati setempat terhadap rakyat Lebak. Pengalaman pahitnya itu kemudian menginspirasi novelnya yang berjudul Max Havelaar (1860).
“Dan karya romannya itu kelak banyak menginspirasi tokoh-tokoh di Indonesia, seperti Sukarno dan RA Kartini, dalam mengenali penjajajahan, bahkan tokoh nasional Filipina Jose Rizal terinspirasi pula,” ungkapnya.
Sebelum bukunya beredar, lanjutnya, orang-orang di Hindia Belanda tidak begitu menyadari bahwa mereka sedang dijajah. Adapun Multatuli sama-sekali tidak pernah membayangkan bukunya kelak akan menginspirasi gerakan melawan kolonialisme. “Dia hanya mencita-citakan sistem kolonial yang lebih adil.”
Ternyata, “Novel itu efeknya lebih dari itu. Lebih dari sekedar menciptakan keadilan dalam kolonialisme, tapi menjadi rujukan agar koloniaisme itu harus diakhiri.”
Dampak kehadiran buku itu, lanjutnya, juga melahirkan Politik Etis oleh pemerintah Hindia Belanda. “Atau gerakan’ balas budi’ terhadap rakyat jajahan, sehingga sebagian rakyat memperoleh kesempatam untuk sekolah.”
Di mata Bonnie, novel itu mirip bola salju kecil yang menggelinding sehingga berubah menjadi besar. Walaupun tidak secara langsung mengubah sejarah, tapi Max Havelaar telah menjadi simbol inspirasi gerakan pembebasan di negeri terjajah.
“Bagaimanapun terjadi, penjajahan dimasa lalu tetap menyumbangkan pada bentuk negara bangsa Indonesia,” tutupnya. (uci)

LEAVE A REPLY