Gelar Pahlawan Lafran Pane yang Ternodai Penerusnya

0
Ilustrasi. (Foto: @Perkaderan)

Oleh: Heru Huzainy

RILITAS.COM – Lafran Pane, sang pemrakarsa berdirinya organisasi Himpuna Mahasiswa Islam (HmI) beberapa hari lalu mendapat penganugerahan gelar pahlawan nasional dalam momentum hari pahlawan 10 november silam oleh pemerintah RI. Penganugerahan gelar pahlawan nasional kepada Prof. Drs. Lafran Pane oleh Pemerintah RI bukannya tanpa sebab. Pasalnya, tokoh asal Kota Padang Sidempuan itu ikut menyumbangkan jasanya yang begitu besar terhadap negeri ini. Beliau merupakan tokoh gerakan pemuda, beliau juga yang menolak ideologi Islam yang dibawa oleh Kartosuwiryo di Indonesia dan beliau adalah tokoh pendiri HmI sejak tahun 05 februari 1947. Berkat jasa-jasanya yang begitu besar untuk negeri ini lewat lampiran ; Keputusan Presiden RI Nomor : 115/TK/Tahun 2017 tentang Penganugerahan gelar Pahlawan Nasional, secara resmi beliau dinobatkan sebagai pahlawan nasional.

Gelar pahlawan yang diperoleh Lafran Pane tidak ia dapatkan secara spontanitas melainkan melalui proses panjang dan membutuhkan pengorbanan. Lafran Pane adalah sosok yang rendah hati, bersahaja, organisatoris, memiliki ketaatan dalam beragama, dan berkonstitusi tentunya. Poin-poin itulah yang harusnya diserap oleh kader HmI hari ini. Namun sangat disayangkan, pasalnya fenomena yang terjadi pada saat ini banyak dari kader-kadernya yang tidak mengimplementasikan nilai-nilai yang diajarkan oleh Lafran Pane.  Nyatanya fenomena tersebut tanpaknya tidak sejalan dengan realita saat ini pada tiap kader yang menghimpunkan dirinya pada setiap cabang-cabang HmI.

Cabang Serang misalnya, sikap indisipliner masih saja dilakukan pengurusnya dalam menjalankan roda organisasi, dengan tidak mematuhi/mentaati aturan organisasi dan AD/ART HmI. Sikap inskonstitusional itu terlihat hingga hari ini, yang belum juga melaksanakan Konferensi Cabang (Konfercab), terhitung dari akhir bulan mei 2016 (pelantikan) berarti sudah 1 tahun + 8 buln. Padahal, menyoal aturan tersebut, organisasi HmI diketahui mempunyai aturan main yang tertera dalam konstitusi HmI sebagaimana tertuang dalam pasal 28 tentang Status ayat 3 yang berbunyi, masa jabatan pengurus cabang adalah satu tahun semenjak pelantikan/serah terima jabatan dari pengurus demisioner, dalam pasal 30 tentang tugas dan wewenang ayat 12 yang berbunyi menyelenggarakan konferensi/musyawarah anggota cabang, dan dalam pasal 32. penurunan status dan pembubaran cabang ayat 1 yang berbunyi cabang penuh dapat diturunkan status menjadi cabang persiapan apabila memenuhi salah satu atau seluruh hal berikut : poin c. dalam satu periode kepengurusan tidak melaksanakan Konferensi Cabang selambat-lambatnya selama 18 (delapan belas) bulan. ART HmI.

Kebijakan dan keputusan yang diambil oleh para pengurus HmI Cabang saat ini menandakan kurangnya kesadaran baik secara individu maupun kolektif dalam memahami ayat-ayat konstitusi yang tertuang dalam AD/ART Himpunan Mahasiswa Islam. Hal ini menjadi bukti bahwa ayat konstitusi hanyalah tulisan tidak bermakna bagi para penguasa, tidak hanya tingkatan cabang, mungkin saja tingkatan Pengurus Besar (PB) pun demikian dengan temperatur politik highclass nya. Padahal seharusnya ayat-ayat konstitusi menjadi sumber dalam setiap pengambilan keputusan dalam organisasi. Perbuatan yang dilakukan oleh pengurus cabang saat ini dirasa tidak sejalan dengan apa yang telah diajarkan para pendirinya terdahulu, tentunya telah menodai gelar pahlawan Lafran Pane dan juga menjadi preseden buruk bagi kader-kader HmI secara umum, karena cabang merupakan jembatan sekaligus ‘ibu’ bagi kader-kader baru di HmI.

Idealnya persoalan ini harus dijadikan persoalan dan bahan refleksi common sense bagi seluruh kader HmI, karena jika dibiarkan saja akan berimbas kepada perkaderan dan regenerasi kepemimpinan di setiap cabang-cabang dan juga berimbas pada nama organisasi itu sendiri. Kader HmI hari ini haruslah menggunakan common sense dalam menjalankan roda organisasinya, memiliki kepedulian tanpa pura-pura buta dan pura-pura tuli terhadap persoalan yang sedang terjadi saat ini. Mari asah kepedulian sebagai kader yang mendalami nilai-nilai Islam dalam pikiran, ucapan, dan tindakan, maka mari saling mengingatkan kepada jalan kebenaran seperti yg tertuang dalam surat Al Asr:

_saling mengingatkan dalam kebenaran dan dalam kesabaran_ (QS. Al-Asr: 03)

*Penulis adalah Kader HmI Cabang Serang

LEAVE A REPLY