Sehatkah Pendidikan Indonesia

0

RILITAS.COM, Opini – Posisi pendidikan dengan awalnya berlogika secara public yang terpampang didalam konstitusi menjadi logika private ketika memasuki WTO-GATS, dan melihat lagi adanya konsep bunga terhadap pinjaman terhadap biaya pendidikan,.  MASIH SEHATKAH PENDIDIKAN DI INDONESIA?

Indonesia telah menyepakati didalam WTO-GATS terkait pendidikan untuk dimasukkan kedalam perdagangan sektor barang dan jasa, perubahan logika publik menjadi logika privat pun terjadi, apabila Pendidikan telah dimasukan keranah komoditas maka hanya orang orang tertentu saja yang dapat mengakses pendidikan,dan  tak heran lagi ketika pendidikan terasa mahal bagi rakyatnya sendiri.
Student Loan yang akan diterapkan negara terhadap Perguruan Tinggi Negeri di Indonesia agar dijalankan. Pada hakikatnya peminjaman biaya pendidikan terhadap mahasiswa sudah diatur didalam Pasal 76 UU No 12 tahun 2012 Tentang Perguruan Tinggi, dimana pembiayaan terhadap mahasiswa yang kurang mampu mendapatkan haknya dengan diberikan tawaran berupa yang salah satunya pinjaman oleh pemerintah daerah dan/atau perguruan tinggi yang seharusnya tidak dikenai bunga dalam pelunasannya.
Akan  tetapi kebijakan baru yaitu Student Loan yang diterapkan oleh pemerintah malah dikenakan biaya bunga sebesar 6,5%. Seperti yang dilansir dalam salah satu media penerapan biaya bunga tersebut dilakukan oleh Bank BTN, dimana posisi bank BTN merupakan Bank persero merupakan bank yang sebagian atau seluruh sahamnya dimiliki oleh Pemerintah Republik Indonesia.
Perihal pendidikan, bagi warga negara Indonesia sudahlah jelas secara konstitusi, dimana sesuai dengan pasal 31 ayat (1) UUD 1945 “Setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan”. Dari pasal tersebut logika yang dibangun merupakan  logika Publik, dimana seharusnya konteks pendidikan dapat diakses oleh seluruh warga negara tanpa terkecuali.
Pendidikan hakikatnya berguna bagi manusia untuk menjadi paham akan segi kehidupan begitu juga akan penyelesaian kontradiksi kehidupan dari hal yang terkecil hingga dapat membantu merubah kehidupan orang lain menjadi lebih baik. Pendidikan sendiri sejak dahulu telah menjadi hal yang terpenting bagi kehidupan manusia.
Tetapi yang kita lihat  kini orientasi pendidikan telah dilucuti, dimana orientasi semula pendidikan yaitu  untuk menjadikan manusia sebagai kaum intelektual dan untuk kepentingan seluruh umat manusia terhadap kehidupannya namun saat ini orientasinya berubah menjadi pencetak manusia sebagai perkerja untuk sesosok penguasa.
Apabila konsekuensinya yaitu bekerja kepada negara, dimana kondisi negara hari ini masih dalam genggaman kapitalis sehingga merubah dan mencetak kondisi sarjana tersebut menjadi buruh murah.
Apakah pendidikan seperti ini masih relevan? maka pendidikan seolah dialihkan orientasi utamanya menjadi orientasi untuk bekerja, dengan adanya konsep student loan yang masih rancu akan konsekuensi apabila si mahasiswa tersebut tidak dapat membayar karena beban biaya kuliah yang mahal dan ditambah bunga yang dibebankan.
Seperti yang telah diterapakan pada Amerika Serikat yang memeiliki dua opsi menjadikan sarjana yang tidak mampu membayar akan dialokasikan sebagai militer ataukah kurungan penjara? apa bila hal tersebut benar, maka benarlah teori tersebut menggambarkan kondisi negara Indonesia.
Mengutip perkataan Paulo Freire “Pendidikan harus menjadi arena pembebasan manusia sehinggga mengantar orang menemukan dirinya sendiri, untuk kemudian secara kritis menghadapi realitas sekitarnya dengan kritis dan mengubah dunia secara kreatif.”
Akhirnya, dengan mengacu pada kondisi di atas, Melihat salah satu teori yang dikutip didalam buku Hukum Kritis terdapat tiga esessial untuk menjadi manusia yakni kemampuan untuk berpikirkan, untuk berkehendak dan untuk menilai.
Makan menjadi pertanyaan bagaimana manusia dapat melakukan 3 hal tersebut tanpa di indahkan dengan suatu pendidikan yang ilmiah, demokratis dan mengabdi pada rakyat, dengan kondisi pendidikan formal sendiri yang terkesan mengekang seperti itu apakah kita akan harus mengikuti nya.(uci)

LEAVE A REPLY