Syahbandar Tionghoa di Kerajaan Islam Banten

0
Sisa Benteng Speelwijk karya Cakradana
Sisa Benteng Speelwijk karya Cakradana

RILITAS.COM, Serang – Sultan Abul Fath mengirim surat balasan pada Raja Denmark Christian V pada 1671. Permintaan berniaga diizinkan Kesultanan Banten, dengan catatan Sultan ingin membeli senjata dan mesiu dari Denmark.

Surat dengan tulisan Arab Sultan Abul Fath putra Sultan Abu al Maali putra Sultan Abu al Mafakhir putra Sultan Muhammad putra Yusuf putra Hasanuddin menggunakan huruf pegon Melayu. Baris ke-13 menyebut permintaan senjata agar dikirim sebagaimana Kapten Hadelar menitip lada pada Angabehi Cakradana.

Sultan Abul Fath kemudian bergelar Sultan Ageng Tirtayasa. Suratnya ke Raja Denmark masih tersimpan di Royal Library Copenhagen. Berbagai surat dari masa kesultanan oleh peneliti Titik Pudjiastuti dikumpulkan dalam buku Perang, Dagang, Persahabatan Surat-Surat Sultan Banten.

Lalu, siapa Angahebi Cakradana yang disebut Sultan Ageng pada bagian surat ke Raja Denmark Christian V?

Cloude Guillot dalam Banten Sejarah dan Peradaban Abad X-XVII menyebutnya Kiai Ngabehi Cakradana. Dia keturunan Cina penyandang nama Tantseko. Lelaki yang lahir sebelum 1630 itu mengawali karier sebagai pandai besi. Cakradana kemudian menduduki jabatan penting di pemerintahan kesultanan sebagai Syahbandar Kota Cina atau kepala bea cukai di bawah syahbandar utama bernama Kaytsu. Dia dipercaya menduduki jabatan penting berkat mentornya yang juga seorang Tionghoa.Keduanya juga dikenal sebagai penasihat sultan yang memeluk agama Islam.

Bersama Kaytsu, Cakradana banyak terlibat perniagaan maritim. Pada Mei 1666 ia mengirimkan jung (perahu) ke Quang Nam, daerah di Cochinchina yang dikuasai Dinasti Nguyen. Ia juga terlibat niaga dengan orang Portugis di kantor dagang Denmark di daerah Cirinmandel.

“Di tahun 1671-1672, ia berniaga dengan orang Eropa di Banten, untuk lada dengan orang Denmark, dan untuk kemenyan dengan orang Inggris,” tulis Guillot. Cakradana juga memberangkatkan kapal-kapal ke Macao, dan pada 1680 ke Canton dan pesisir China.

“Ia benar-benar melibatkan diri dalam perniagan jarak jauh dengan cara menyelinap ke jaringan orang Tionghoa pendukung dinasti Ming. Jaringan ini didirikan di bawah perlindungan keluarga Zheng yang bermarkas di Taiwan,” tulisnya.

Pada masa awal kariernya, Cakradana mendapat kepercayaan penuh dari Sultan Ageng Tirtayasa. Sumber Inggris pada 1666 menggambarkannya sebagai ‘orang yang paling disukai sultan’. Mengutip Guilhen, Guillot menulis bahwa Cakradana adalah anak emas raja.

Saat perniagaan di Banten maju, proyek-proyek pembangunan pada 1671 mulai digerakan. Pemukiman Pacinaan dibangun untuk menampung pendukung dinasti Ming yang melarikan dari China. Ada 120 rumah bata dengan toko lantai di atasnya.

Guillot mengutip, dalam laporan yang dihasilkan loji Inggris, disebutkan bahwa “di tahun 1671, di Banten telah ada tiga jalan cukup baik dengan sekitar 20 rumah bata di masing-masing sisi yang dibangun oleh raja dengan toko-toko untuk menampung mereka (orang-orang Tionghoa)”. Guilhen bahkan menulis bahwa Cakradana membangun jalan atas biaya sendiri.

Pada 1674, syahbandar utama Kaytsu Banten meninggal. Posisi sebagai syahbandar sempat dipegang oleh istrinya tapi kemudian diambil alih oleh Pangeran Kidul. Namun, di tangannya perniagaan maritim berjalan sangat buruk.

Pada 1677, raja akhirnya menunjuk Cakradana sebagai syahbandar utama yang baru di Kesultanan Banten pada 23 Februari.

Di tahun awal posisinya sebagai syahbandar, Cakradana melanjutkan proyek pembangunan, khususnya benteng di sisi laut sebelah barat. Selain itu, dibangun pula benteng pertahanan di Carang Ontogh (Karangantu) dan selesai pada Maret 1679.

Setahun kemudian, 1680, perselisihan antara Sultan Ageng dan putranya Sultan Haji menajam. Sultan Haji kemudian menyingkirkan orang kepercayaan ayahnya tersebut. Cakradana dipecat dari jabatan syahbandar utama dan digantikan oleh Kiai Arya Mangunsadana. Ia juga adalah Tionghoa yang mengawali karier sebagai pemikul air.

Guillot menulis, pada 1682, perseteruan antara Sultan Ageng dan Sultan Haji semakin meruncing. Sultan Haji menyingkirkan saudara-saudaranya dan berhasil berkuasa atas bantuan dari Belanda. Ditulisnya, Cakradana kemudian pergi ke Cirebon dan melakukan perniagaan maritim dalam jumlah kecil. Ia juga meninggal di sana lalu dibawa ke Batavia untuk dikuburkan.(bri/jat/det)

LEAVE A REPLY