Rusia Ragukan Kematian Skripal

0
Petugas yang menyiapkan pemakaman Sergei Skripal dan putrinya yang tewas akibat racun, di London Road Cemetery, Salisbury, Inggris. (Foto: AFP PHOTO / Daniel LEAL-OLIVAS)
Petugas yang menyiapkan pemakaman Sergei Skripal dan putrinya yang tewas akibat racun, di London Road Cemetery, Salisbury, Inggris. (Foto: AFP PHOTO / Daniel LEAL-OLIVAS)

RILITAS.COM, Internasional – Alexander Yakovenko, Dubes Rusia untuk Inggris, mengatakan pihaknya menerima memo diplomatik bahwa korban dan putrinya dalam kondisi kritis. Ia juga menyebut bahwa Inggris menyembunyikan rincian kondisi korban.

“Inggris terus menyembunyikan rekam medis dari kami. Rusia tidak memiliki akses kepada korban, kami tak memiliki kesempatan untuk bicara kepada dokter,” cetusnya, pada Jum’at (16/3/2018).

Indikasinya, lanjut dia, adalah bahwa pihaknya kesulitan menemukan foto Skripal setelah kejadian.

“Tak seorang pun mempublikasikan fotonya. Mereka mungkin masih hidup, mungkin tidak, atau mungkin tidak terjadi apa pun sama sekali,” ia menambahkan.

Yakovenko menambahkan bahwa 23 diplomat Rusia yang masuk dafar hitam Inggris akan meninggalkan negara itu pada Selasa (20/3).

Sebelumnya, mantan agen ganda Sergei Skripal bersama putrinya Yulia Skripal ditemukan dalam kondisi tak sadar di sebuah bangku di Slaibury, Inggris, 4 Maret. Mereka kemudian dilarikan ke RS dalam kondisi kritis.

Inggris menuding Rusia melakukan pembunuhan terhadap mantan mata-mata Rusia itu. Bersama dengan Amerika Serikat, Jerman, dan Prancis, Inggris meminta penjelasan kepada Kremlin terkait kasus tersebut.

“Segera setelah kita mendapatkan fakta, jika kita sepakat dengan mereka, kita akan mengutuk Rusia atau siapapun itu,” ucap Presiden Donald Trump, dalam sebuah pernyataan, 13 Maret.

“Bagi saya sepertinya mereka percaya [pelaku] itu adalah Rusia, dan saya akan menganggap hal itu sebagai fakta,” ia menambahkan.

Namun, Rusia menyebut tak ada bukti nyata yang bisa mengaitkan serangan tersebut dengan Kremlin.

“Jelas ada kekurangan bukti. Seluruh gelombang [tudingan] muasalnya dari Inggris,” ujar Dmitry Peskov, juru bicara Kremlin. (arh)

LEAVE A REPLY