Secangkir Peradaban dalam Genggaman

0

Oleh: Wahyudin Arief

RILITAS.COM – Mari sejenak, kawan, bagaimana jika kita bicarakan hal ini di dalam warung kopi pinggir jalan itu saja, sederhana namun penuh makna. Karena setelah kau menghirup aroma dan menyesap secangkir kopi hitam pekat yang tercium tajam, baru kau akan paham dengan apa yang hendak aku sampaikan.

Hari ini usia kemerdekaan negeri kita sudah bertambah, 72 tahun merupakan rentang waktu yang cukup lama dan cukup dengan pengalaman-pengalaman yang sudah dilalui. 72 tahun sudah kita terbebas dari penjajahan asing, sudah seharusnya rakyat hidup makmur dan sejahtera. Namun kenyataan hari ini negeri kita kembali terjajah, ya terjajah oleh bangsanya sendiri. Banyak rakyat yang memilih untuk diam, pasrah menjadi api dalam sekam. Dirusak oleh  tingkah generasi liar secara perlahan, mengedepankan ketamakan serta keangkuhan, tak peduli  orang-orang di pelosok pedalaman menggigil kedinganan, meringkih kelaparan.

Kau ingat, kawan, beberapa hari yang lalu aku pernah meminta kau memandang langit? Iya, kita memandang langit yang sama, menatap bulan juga matahari yang sama. Apakah kau menyadari ketika kita memandang langit yang sama, kitapun menginjakan kaki di negeri yang sama? Tak usah kau jawab, dengarkan saja dulu. Tapi, apakah pandanganku perihal negeri ini sama dengan pandanganmu? Apakah pandanganmu perihal negeri ini sama dengan pandangan nanar bocah lapar  yang terkapar dipinggir trotoar itu? Tidak, kawan. Kita mempunyai pandangan masing-masing, dan seharunya pemerintah bisa menampung aspirasi dari beragai persepsi.

Tanah air, mata air serta air mata kerap dirundung oleh duka sepanjang nestapa.

Banyak yang bilang negeri yang tanahnya sedang kita injak ini rakyatnya terbelakang, hanya karena berdiam saja dan hanya bisa parah ketika dikekang.

Banyak yang bilang negeri yang tanahnya sedang kita injak ini masyarakatnya terasing, hanya karena gaya pakainnya  sesuai adat masing-masing.

Banyak yang bilang negeri yang tanahnya sedang kita injak inisedang memelihara tikus-tikus koruptor yang begitu kotor dan kerjaannya hanya sebagai manipulator.

Banyak yang bilang negeri yang tanahnya sedang kita injak ini mengabaikan wilayah perbatasan negara, padahal mereka orang yang pertama kali membendung jika adanya ancaman dari negara tetangga.

Banyak yang bilang negeri yang tanahnya sedang kita injak ini pemerintahnya terlalu acuh untuk membiarkan anak-anak kecil menyeberang jembatan ala kadarnya untuk berangkat menuju sekolahan, seolah mereka dipaksa meyerah sebelum dimualinya pertempuran, pun dipaksa menyerahkan nyawanya pada Tuhan demi ilmu pengetahuan.

Banyak yang bilang, ya kawan, terlalu banyak orang  yang bilang  perihal negeri ini. Tapi rupanya mereka lupa, sudahkah mereka berbuat sesuatu atas nama perubahan yang selama ini mereka teriaki ke telinga-telinga para petinggi negara? Sudahkah?

Aku kira kau sudah mulai menyerap apa yang baru aku sampaikan tadi, maka tak ada salahnya kita pesan secangkir kopi lagi untuk yang kedua kali. Karena aku ingin apa yang aku sampaikan mengendap di dalam kepalamu seperti ampas kopi itu.

Oh iya, kau tentu tahu Soe Hok Gie, bukan? Ia adalah orang Tionghoa, namun darah yang mengalir di dalamnya adalah darah Indonesia. Terbukti ia kerapkali dicaci padahal ia hanya ingin menyampaikan kebusukan orde lama yang sudah dipenuhi enigma. Menyampaikan kritik lewat sastra, membela keadilan kaum jelata. Bahakan ketiak ia meninggalkan dunia yang fana, tepat sehari sebelum ulang tahunnya, ia menghabiskan waktunya disini, di negeri yang alamnya takkan habis untuk dikagumi.

Kau tahu seorang perempuan yang bernama Gloria Natapraja, calon paskibraka tahun lalu yang terancam tidak bisa bergabung di Istana, hanya karena saat itu status kewarganegaannya masih dipertanyakan. Meskipun ayahnya warga negara Perancis, namun ia sudah mengukuhkan diri untuk menjadi warga negara Indonesia. Padahal ia sudah susah payah untuk meraih kehormatan mengawal bendera pusaka, menyingkirkan ribuan peserta, tapi harus rela menelan pil pahit beberapa detik sebelum pengukuhan tim pengibar bendera.

Aku rindu para penyair-penyair yang kritis dengan kondisi negeri. Tentang puisi berebut kursi di gelanggang arena.

Tentang menertawakan kemiskinan di atas singgasana.

Tentang penguasa yang berbuat semena-mena.

Tentang para pejabat yang begitu sombong memamerkan lencana.

Atau tentang si dungu yang begitu hina.

Seruput saja dulu kopimu itu, kawan. Sebelum kopinya menjadi dingin karena hangatnya telah lenyap tertiup angin, aku akan membicarakan hal ini lagi sesuai apa yang aku ingin.

Dibalikkekurangan  itu semua, kawan, apakah kau menyadari bahwa budaya kita tak kalah istimewa ketimbang budaya Eropa? Apakah kau menyadari fashion yang kita miliki tak kalah mempesona dengan fashion negera menara eifel itu? Lihat saja pagelaran tahunan World Street Fashion Carnival oleh Jember Fashion Carnaval (JFC) yang berlangsung beberapa hari yang lalu, mengagumkan bukan? Apakah kau menyadari tarian kita tidak kalah meriah dengan tarian dari negeri ginseng? Lihat saja pagelaran Tari Saman Massal dengan jumlah penari terbanyak di dunia, yakni 12.262 penari, yang memecahkan rekor dunia dari Museum Rekor Indonesia (MURI) yang berlangsung beberapa hari yang lalu, mengagumkan bukan? Belum selesai kita membicarakan pantainya yang sebening kaca, yang birunya sebiru langit, membuat kita kesulitan mencari garis tipis yang memisahkan keduanya.

Aku bisa saja menceritakan tentang negeri ini terus-menerus, sampai habis tiga cangkir kopi hitam sekalipun tak jadi malah. Yang harus kau ingat dalam-dalam ialah bahwa sejatinya kita harus melihat bagaimana rekam jejak perjalanan negeri ini secara utuh, bukan melihat dari hasilnya saja. Tujunanya, tak lain dan tak bukan ialah meneruskan cita-cita para pejuang, yang rela mati dalam perang, yang dipaksa membangun lalu tumbang kembali demi Anyer-Panarukan. Oleh tersebab itu, semangat kepahlawanan mereka sudah seharusnya kita resap dan serap dalam diri kita sejak mendengar, membaca dan mengetahui sejarah pengorbanan para Veteran mengusir penajajah dari negeri yang tercinta ini.

Aku ingin kau seperti para investor yang melihat negeri ini seperti tumpukan-tumpukan berlian berbentuk pulau,  yang pada waktunya untuk digali lantas dibentuk potensi-potesni. Meminjam istilah yang entah keluar dari mulut siapa, aku lupa, yaitu hancurnya sebuah negara bukan karena banyaknya orang jahat di dalam negara itu, tetapi karena diamnya orang-orang baik.

Aku yakin kau tahu dengan negeri yang kita sedang kita bicarakan ininamnya apa, tapi bukan itu yang hendak ingin kutanyakan padamu, kawan. Pertanyaaku sederhana saja, apa kita akan terus-menerus mebicarakan perihal negeri ini yang tak ada habisnya lalu kembali memesan secangkir peradaban dalam genggaman untuk yang ketiga kali, atau kau hendak keluar sekarang dari warung kopi ini lantas berkomitmen membuat perubahan yang dimulai dari dirimu sendiri?

*Penulis adalah kader HMI Komisariat Tigaraksa & Kabid Media Data dan Informasi HIMATANGBAR

LEAVE A REPLY