Pokemon Go Bisa Jadi Alat Mata-mata Dinilai Lebay

0
Sebuah pengumuman larangan bermain

Rilitas.com, Jakarta – Meski Niantic Inc. belum merilis Pokemon Go secara resmi di Indonesia, tren game mobile ini sangat masif dan penggunanya pun sangat banyak. Kehadirannya menurut pemerintah, perlu diwaspadai karena bisa dimanfaatkan sebagai alat mata-mata.

Pokemon Go membuat para gamer harus bergerak ke berbagai tempat untuk memburu monster virtual itu, tak terkecuali ke lokasi vital seperti markas militer hingga Istana Presiden RI.

Dari situ, pemerintah khawatir apabila Pokemon Go kemudian dimanfaatkan oleh para intelijen asing untuk memetakan objek vital di Indonesia.

Praktisi keamanan digital dari Vaksincom Alfons Tanujaya berpendapat, apabila anggapan tersebut diseriusi, maka pemerintah telah bersikap “lebay” alias berlebihan.

“Menurut saya sih ini lebay. Mungkin bukan karena disalahgunakan, tetapi karena mengganggu produktivitas,” ujar Alfons seperti dilansir dari CNNIndonesia.com, Kamis (21/7/2017).

Sementara itu dari pihak Kepolisian RI dan TNI Angkatan Laut menilai, salah satu hal yang perlu diwaspadai adalah teknologi GPS yang diterapkan di Pokemon Go.

Menanggapi hal itu, Alfons menuturkan, “banyak aplikasi lain pakai GPS, seperti Waze sampai Google Maps. itu malah data yang didapatkan lebih berbahaya.”

Alfons kemudian menganggap teknologi augmented reality yang diusung Pokemon Go bisa saja menjadi salah satu yang dinilai berbahaya oleh pemerintah.

Augmented Reality (AR) yang menawarkan tampilan campuran antara dunia virtual dengan dunia nyata ini memang tengah naik daun.

“Teknologi AR mungkin dianggap bisa jadi alat mata-mata. Padahal orang yang main Pokemon Go justru tidak mengaktifkan fungsi AR-nya karena mengganggu performance game,” tukasnya lagi.

Lagi pula, masih menurut Alfons, tanpa Pokemon Go pada dasarnya fitur GPS di ponsel pintar pengguna aktif semua.

“Rasanya tidak relevan. Kalau mau intelijen banyak cara yang lebih canggih tanpa terdeteksi,” ucapnya.

Ia memberi contoh, apabila persoalannya adalah penggunaan kamera ponsel saat memainkan Pokemon Go, sejatinya sudah banyak virus jahat (malware) spionase yang mampu mengaktifkan mic, kamera, dan merekam tanpa sepengetahuan si empunya perangkat.

“Itu yang harus ditakuti, bukan Pikachu,” tutup Alfons.

Sependapat, sebelumnya analis intelijen dari Universitas Indonesia Ridlwan Habib turut menilai, Pokemon Go tidak berbahaya dari sisi keamanan negara. Ditambahkan olehnya, teknologi AR juga bukan ancaman.

Ridlwan menyebut, wacana pengawasan game Pokemon Go oleh Badan Intelijen Negara (BIN) tidak diperlukan. BIN memiliki tugas yang lebih penting untuk diselesaikan, seperti soal penyanderaan anak buah kapal oleh kelompok Abu Sayyaf, jaringan vaksin palsu, serta carut-marut impor daging.

Di sisi lain, berdasarkan laporan kantor berita Antara, salah satu poin dari surat telegram dari Kapolri tertanggal 19 Juli adalah peringatan akan teknologi GPS yang mengharuskan pemain mengaktifkan geolokasi sehingga bisa berbahaya jika lokasi permainan berada di lingkungan Markas Polri.

“Karena (gambar Markas Polri) akan terekam, dan apabila informasi itu jatuh ke orang yang tidak bertanggung jawab, maka dapat disalahgunakan,” demikian bunyi surat telegram Kapolri.

Sementara Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu berpendapat permainan Pokemon Go merugikan orang lain. Dia menduga jika ada yang bermain Pokemon Go di sejumlah objek vital negara, maka intelijen asing bisa memetakan objek vital di Indonesia.

Ryamizard mengatakan perkembangan teknologi intelijen amat cepat hingga tak boleh disepelekan. Kecanggihan teknologi intelijen kini bisa masuk ke semua lini kehidupan masyarakat, termasuk melalui game. (tyo)

LEAVE A REPLY