Di Beijing, Duterte Ucapkan Selamat Tinggal Kepada AS

0
Kunjungan ke Beijing dinilai sebagai langkah konkret Duterte membawa Filipina menjauh dari AS dan mulai menjalin kemitraan dengan China. (Reuters/Kham)
Kunjungan ke Beijing dinilai sebagai langkah konkret Duterte membawa Filipina menjauh dari AS dan mulai menjalin kemitraan dengan China. (Reuters/Kham)

RILITAS.COM, Internasional – Presiden Rodrigo Duterte menyatakan sudah waktunya bagi Filipina untuk “mengucapkan selamat tinggal” kepada Amerika Serikat dalam kunjungan diplomatiknya ke Beijing pekan ini. Ucapan Duterte itu sejalan dengan rencananya untuk melepaskan ketergantungan negaranya pada AS dan mendekatkan diri ke Rusia dan China.

Duterte berada di China sejak Selasa (18/10) dalam agenda kunjungan diplomatiknya yang akan berlangsung selama empat hari. Dalam pidatonya kepada komunitas Filipina di Beijing, presiden yang terkenal dengan gaya bicara yang ceplas-ceplos ini menyatakan bahwa hubungan sekutu dengan AS, yang sudah terjalin sejak 1951, hanya sedikit menguntungkan Filipina.

“Kehadiran kalian (AS) di negara kami selama ini hanya untuk keuntungan kalian. Jadi ini waktunya kami ucapkan selamat tinggal, teman,” tutur Duterte seakan berkata kepada AS, Rabu (19/10), dikutip dari AFP.

“Saya tidak akan pergi ke AS lagi. Di AS saya hanya akan dihina,” kata Duterte, sembari kembali menyatakan Presiden Barrack Obama sebagai “anak pelacur.”

Kunjungan ke Beijing dinilai sebagai langkah konkret Duterte membawa Filipina menjauh dari AS dan mulai menjalin kemitraan dengan China. Duterte dijadwalkan bertemu dengan Presiden China Xi Jinping dan Perdana Menteri China Li Keqiang untuk membahas sejumlah potensi kerja sama.

Duterte, yang menjabat sebagai orang nomor satu di Filipina sejak Juni lalu, menyatakan kejengahanya melihat politik luar negeri Filipina yang dinilainya selama ini terus didikte oleh berbagai rencana pihak Barat.

Duterte menegaskan, ia akan membentuk politik luar negeri Filipina yang baru berdasarkan kepentingan negaranya.

Beberapa waktu lalu, Duterte pernah menyatakan akan mengakhiri patroli bersama militer AS-Filipina di Laut China Selatan. Di sisi lain, ia juga menyatakan Filipina siap membuka diri untuk latihan militer gabungan dengan Rusia dan China.

Penguatan hubungan Filipina-China, tutur Duterte, akan terfokus pada peningkatan kemitraan ekonomi kedua negara. Duterte juga berharap “menghangatnya” hubungan kedua negara akan membuat China mencabut larangan impor pisang Filipina di China. Sanksi ekonomi ini dilayangkan Beijing kepada Manila akibat sengketa di Laut China Selatan.

Hubungan Filipina dan China memburuk pada masa pemerintahan presiden sebelumnya, Benigno Aquino, utamanya terkait sengketa maritim di Laut China Selatan. Filipina sempat mengajukan tuntutan hukum ke pengadilan arbitrase internasional yang berbasis di Belanda terkait masalah ini.

Keputusan pengadilan menampik klaim China atas perairan yang memiliki nilai perdagangan mencapai US$5 triliun per tahun itu. (ama/den)

LEAVE A REPLY