Ini Bedanya Demam Akibat HIV/AIDS dengan Demam Biasa

0
Ilustrasi. (Foto: DOk/Net)
Ilustrasi. (Foto: DOk/Net)

RILITAS.COM, Kesehatan – HIV/AIDS, penyakit berbahaya yang mungkin sudah tak asing lagi di telinga Anda. Penyakit mematikan ini ternyata memiliki gejala yang mirip dengan keluhan pada umumnya, yaitu demam.

Perlu Anda ketahui, demam adalah bentuk pertahanan tubuh dalam melawan infeksi. Demam itu sendiri bukanlah sebuah penyakit, melainkan gejala dari penyakit yang mendasari.

Baik orang yang terkena HIV/AIDS atau demam sama-sama mengalami penurunan daya tahan tubuh. Bedanya, orang dengan HIV/AIDS lama kelamaan sangat terciri dengan badan yang kurus, dan berbagai komplikasi penyakit lainnya.

Bedanya HIV/AIDS dengan demam biasa

Demam pada orang dengan HIV/AIDS tidak jauh berbeda dengan demam biasa, baik dari segi ciri maupun gejalanya.

“HIV/AIDS biasanya tidak menunjukkan tanda-tanda demam yang spesifik. Artinya, demam akibat HIV/AIDS sama saja seperti demam pada umumnya. Untuk dapat membedakannya secara mutlak, perlu dilakukan pemeriksaan laboratorium,” ujar dr. Dyan Mega Inderawati.

“Kalau sudah stadium lanjut, biasanya baru mulai banyak sariawan di mulut. Terus ada penyakit komplikasinya, misalnya infeksi paru, infeksi otak seperti meningitis, dan sebagainya. Kalau soal demam, tidak ada yang membedakan. Jadi harus ditunggu infeksi lanjutannya terlebih dahulu,” tegas dr. Ega.

Tahap-tahap HIV/AIDS

Layaknya kanker, infeksi HIV juga memiliki tahapan (stadium) hingga akhirnya berubah menjadi AIDS. Tahapan yang dimaksud adalah sebagai berikut:

  • Tahap pertama

Ini biasanya terjadi pada 2–6 minggu setelah infeksi awal dan disebut dengan infeksi akut (serkonversi). Menurut dr. Dewi Ema Anindia, pada tahap ini sistem imun tubuh berusaha melawan virus HIV. Seseorang yang berada di tahap ini akan mengalami gejala layaknya infeksi virus pada umumnya, seperti demam.

Pada beberapa kasus, HIV tahap pertama juga bisa memberikan gejala berupa: nyeri kepala, diare, mual dan muntah, badan lemas dan lelah, nyeri otot, nyeri saat menelan, serta lesi merah pada tubuh yang biasanya tidak gatal dan muncul di bagian dada.

  • Tahap kedua

Pada tahap kedua, sistem tubuh akan kalah. Gejala yang terjadi di tahap pertama akan hilang dan berganti menjadi tahap di mana tidak terjadi gejala apa pun dalam waktu yang lama.

Menurut dr. Ema, tahap kedua HIV disebut periode asimtomatis. Ini artinya, infeksi HIV yang terjadi tidak menimbulkan gejala sehingga penderitanya tidak mengetahui bahwa dirinya terjangkit penyakit tersebut. Periode ini dapat bertahan hingga 10 tahun dan virus HIV perlahan-lahan akan membunuh sistem sel darah putih yang dinamakan CD 4 T-cells dan benar-benar merusak sistem kekebalan tubuh.

  • Tahap ketiga

Pada tahap ini, infeksi HIV sudah berubah menjadi AIDS. Seseorang yang berada di tahap ini perlu menjalani pengobatan rutin, agar kondisinya bisa dikendalikan.

Deteksi HIV sejak dini

Berikut adalah beberapa keluhan yang bisa menjadi pertanda adanya infeksi HIV di dalam tubuh Anda:

  • Lelah dan badan lemas setiap saat
  • Pembengkakan kelenjar getah bening di leher atau selangkangan
  • Demam lebih dari 10 hari
  • Keringat malam hari
  • Berat badan menurun drastis tanpa sebab yang jelas
  • Bintik ungu di tubuh yang sulit hilang
  • Sulit bernapas
  • Diare berkepanjangan
  • Infeksi jamur di mulut, tenggorok, atau vagina
  • Mudah berdarah atau memar

Jika Anda mengalami satu atau lebih dari keluhan di atas, segera periksakan diri ke dokter. Dengan demikian, penyakit yang mendasari adanya keluhan bisa dideteksi dini dan diobati segera.

Mulai saat ini, selalu jaga diri Anda dan jangan pernah anggap sepele berbagai keluhan kesehatan sekalipun itu hanya demam. Ingat, HIV/AIDS adalah penyakit mematikan yang hadir diam-diam dan memiliki gejala awal yang terlihat sepele. (nb/rvs)

Sumber: Klik Dokter

LEAVE A REPLY