Pesona Wisata Pulau Cangkir Kedepannya!

0

RILITAS.COM, Opini Pulo Cangkir atau Pulau Cangkir, sebuah wisata religi yang terletak di Desa Kronjo, Kecamatan Kronjo, Kabupaten Tangerang, Banten, merupakan salah satu tempat wisata kebanggaan bagi masyarakat Kabupaten Tangerang. Namun sangat disayangkan, ketika mengunjungi tempat tersebut terlihat kondisi yang sangat memprihatinkan. Saat ini, kondisi objek wisata tersebut sangat kotor, kumuh tidak terawat, sampah yang berserakan, ‘semrawut’ tidak tertata, dan infrastruktur jalannya yang rusak. Saat memasuki pintu gerbang, pengunjung disuguhkan dengan jalanan yang masih berstruktur tanah tidak rata. Saat hujan turun, jalanan menjadi licin dan becek. Sementara saat malam hari, kondisi jalan sangat gelap lantaran tidak adanya lampu penerangan, sehingga pengunjung harus ekstra hati-hati.

Begitu sampai ke tepi pantai, motor pengunjung diparkirkan di pinggir pantai lantaran tidak adanya tempat parkir yang tertata rapih. Hal ini tentu membuat perasaan tidak nyaman karena jarak antara tempat parkir dan objek penziarahan lumayan jauh. Selain itu, tidak tertatanya parkir kendaraan dan tempat berjualan membuat suasana terlihat semakin kumuh, ditambah sampah yang berserakan. Padahal, alangkah baiknya apabila dari mesjid yang pertama sampai mesjid di pinggir pantai dikosongkan dari tempat parkir dan tempat berjualan, supaya nyaman dan mengurangi sampah tentunya.

Sampah yang berserakan di sekitar bibir pantai Pulau Cangkir. (Foto: Ai Nurhasanah/Dok.Pribadi)
Sampah yang berserakan di sekitar bibir pantai Pulau Cangkir. (Foto: Ai Nurhasanah/Dok.Pribadi)

Kondisi seperi ini perlu ditangani secara komprehensif yang terintegrasi dengan baik antara pemerintah melalui dinas terkait dengan masyarakat sekitar, mengingat potensi yang dapat dikembangkan di Pulo Cangkir sangat menjanjikan terutama pada nilai wisata religi, sejarah, bahari, kuliner, ekonomi kreatif, serta industri pengolahan ikan.

Pulau Cangkir Kedepannya

Kita hanya bisa berharap Pulau Cangkir ke depan bisa berubah menjadi seperti di Pengandaran bahkan seperti di Pantai Kuta Bali, dimana pengunjung atau wisatawan dimanjakan dengan berbagai fasilitas kenyamanan dan keamanan. Hal ini tentu tak terlepas dari peran pemerintah dan kepedulian masyarakat sekitar. Sebut saja contohnya di Pantai Kuta Bali, kepedulian masyarakat tentang sampah sangatlah tinggi. Masyarakat Bali telah sadar bahwa permasalahan sampah dapat mengganggu kenyamanan wisatawan, hal ini tentu akan mengurangi pengunjung yang datang, sehingga berdampak pada pendapatan usaha mereka.

Selain itu, kepedulian dari pengelola objek wisata juga sangatlah tinggi. Ketika kita berenang di Pantai Kuta Bali, kita dilarang berbilas (mandi setelah berenang) menggunakan sabun mandi atau sampo dan yang berbusa/kimia lainnya, hal ini karena bisa menyebabkan polusi tanah dan air laut. Bahkan, terdapat penjaga kamar mandi yang selalu mengawasi dan mengingatkan pengunjung. Hal ini juga perlu diterapkan di Pulau Cangkir mengingat bagi sebagian orang meyakini, bahwa mandi di laut setelah ziarah dapat menyembuhkan berbagai penyakit atau bisa menetralisir energi negatif dari dalam tubuh, buang bala atau buang sial. Apalagi saat malam bulan purnama atau malam Jum’at Kliwon, sehingga banyak pengunjung yang melakukan ritual ini, termasuk pengunjung yang berasal dari luar Tangerang seperti dari Bogor, Jakarta, Lampung bahkan dari Makasar. Hal ini juga tentunya perlu fasilitas seperti lampu penerangan di sekitar masjid dan pantai. Tempat tambak udang dan penjaringan ikan juga perlu dijauhkan dari area masjid, seperti di Pangandaran yang terdapat pantai timur khusus wisatawan dan pantai barat untuk nelayan penangkapan ikan, sehingga pengunjung nyaman berenang tanpa merasa bau amis.

Selanjutnya, kedepan Pulau Cangkir harus menyediakan Guide atau pramuwisata. Pengunjung disuguhkan dengan adanya pramuwisata yang sudah siap di pintu gerbang, mempersilahkan pengunjung mengisi buku tamu, memandu pengunjung dengan ramah dan sopan. Pramuwisata juga harus bisa menjelaskan sejarahnya Pulau Cangkir lengkap dengan silsilah dan perjuangan dalam menyiarkan Agama Islam dan melawan penjajah. Soal penataan area parkir, pusat jajanan pasar/oleh- oleh dan kuliner, tak ada salahnya kita mencontoh tempat wisata Candi Borobudur.

Mengingat segmentasinya ialah wisata religi atau ziarah, pemerintah dalam hal ini Dinas Pariwisata baik di tingkatan Provinsi maupun Kabupaten/Kota juga bisa membuat jalur wisata yang menyatukan objek-objek wisata religi seperti Makam Keramat Solear, Makam Syekh Mubarok Cisoka, Banten Lama di Kota Serang dan Mesjid Pintu Seribu di Kota Tangerang. Hal ini juga perlu didukung dengan infrastruktur jalan yang bagus, biro perjalanan wisata, dan penginapan yang layak sehingga pesona wisata khususnya yang terdapat di Kabupaten Tangerang makin menarik perhatian wisatawan lokal maupun mancanegara. Satu lagi, pembangunan pasar modern untuk tempat pelelangan ikan, serta pembangunan industri pengolahan ikan menurut penulis sangatlah perlu, mengingat kondisi jalan yang sangat sempit namun malah digunakan para pedagang untuk berjualan dan mengolah ikan. Semoga ke depan Pulau Cangkir dapat menyerap tenaga kerja dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat Kronjo khususnya.

Penulis,

Ai Nurhasanah (PNS di Lingkungan Kementerian Agama Kabupaten Tangerang)

LEAVE A REPLY